Pemerintah Desa Bengle
Tim Publikasi & Pengelola Informasi Desa
Nayla Nurul Arofah - Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro 2026
Nasi merupakan makanan yang hampir selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Namun, tidak banyak anak-anak yang mengetahui bahwa sepiring nasi yang mereka nikmati setiap hari memiliki perjalanan yang panjang sebelum sampai ke meja makan. Berangkat dari hal tersebut, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro (Undip) 2026, Nayla Nurul Arofah, melaksanakan kegiatan edukasi kepada siswa kelas III MI Miftahul Ulum, Desa Bengle, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali, pada Senin (27/7) dengan bertajuk “Petualangan Ajaib Sebutir Padi: Dari Sawah Hijau Sampai ke Piring Makanku”.
Nayla membuka sesi dengan sapaan hangat khas dunia anak-anak. la mengajak sembilan siswa yang hadir untuk membayangkan diri mereka sebagai petani kecil yang menanam bibit padi di sawah berlumpur, lengkap dengan traktor merah lucu yang seolah ikut "bermain lumpur" bersama para petani.
Satu demi satu tahapan perjalanan padi dikupas dengan bahasa yang ringan dan penuh imajinasi. Mulai dari proses pengolahan sawah dan penanaman bibit yang harus berbaris rapi, masa pertumbuhan padi selama tiga hingga empat bulan yang penuh tantangan dari hama tak diundang, hingga momen panen emas ketika bulir padi menguning dan siap dipotong. Nayla juga menjelaskan proses penjemuran gabah selama dua hingga tiga hari serta penggilingan yang mengubah gabah berjaket keras menjadi beras putih bersih, sebelum akhirnya sampai ke proses memasak dan tersaji hangat di atas piring.
Suasana kelas kian meriah ketika sesi tanya-jawab dan kuis interaktif yang diselipkan di sela penjelasan. Pertanyaan seputar hewan pengganggu tanaman padi, istilah gabah dan beras, hingga fungsi rice cooker sebagai "alat ajaib" pengubah beras menjadi nasi, disambut antusiasme luar biasa dari para siswa.
Tangan-tangan kecil berebut terangkat, saling adu cepat menjawab sebelum waktu habis. Bagi siswa yang berhasil menjawab dengan benar, akan mendapat hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi, yang sontak disambut sorak-sorai dan tepuk tangan meriah seisi kelas.
Di penghujung sesi, Nayla mengajak seluruh siswa merenungkan satu pesan penting: bahwa sebutir nasi yang setiap hari mereka nikmati ternyata melalui perjalanan yang sangat panjang dan melibatkan jerih payah petani yang tidak ringan. Pesan sederhana namun bermakna itu ia tutup dengan ajakan agar anak-anak membiasakan diri menghabiskan nasi di piring masing-masing, sebagai wujud rasa syukur dan penghargaan terhadap kerja keras para petani.
Kegiatan yang berlangsung penuh keceriaan ini tidak hanya berhasil menambah wawasan siswa kelas III MI Miftahul Ulum tentang proses produksi pangan, tetapi juga menanamkan nilai menghargai makanan sejak dini melalui cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Harapannya, semangat belajar sambil bermain semacam ini dapat terus dihadirkan dalam program-program edukasi berikutnya, sehingga ilmu tentang pertanian dan ketahanan pangan semakin dekat dengan generasi muda di lingkungan sekolah dasar.