Mitigasi Bencana 17 August 2026

Bukan Cuma Soal Api, Mahasiswa KKN-R Undip Tim II 2025/2026 Bekali Warga Bengle Hadapi Risiko Kekeringan dan Kebakaran

Beranda / Mitigasi Bencana / Detail Berita
Bukan Cuma Soal Api, Mahasiswa KKN-R Undip Tim II 2025/2026 Bekali Warga Bengle Hadapi Risiko Kekeringan dan Kebakaran
Foto: Dokumentasi Resmi Mitigasi Bencana Desa Bengle

Pemerintah Desa Bengle

Tim Publikasi & Pengelola Informasi Desa

Mitigasi Bencana

Musim kemarau bukan hanya menghadirkan persoalan keterbatasan air, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran yang dapat mengancam keselamatan keluarga hingga dokumen penting masyarakat. Berangkat dari kondisi tersebut, Tim II KKN-R Universitas Diponegoro (Undip) 2026 menyelenggarakan program multidisiplin bertajuk “Mitigasi Dampak Kekeringan dan Kesiapsiagaan Bencana Kebakaran” di Desa Bengle, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 6 Agustus 2026 di Balai Dusun Dukuh Sambiroto ini diikuti oleh 10 mahasiswa Tim II KKN-R Undip bersama perwakilan perangkat desa, perangkat Dukuh Sambiroto dan Kalilantung, serta perwakilan RT dari kedua dukuh yang terdiri atas bapakbapak dan ibu-ibu. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak memahami bahwa mitigasi bencana tidak dimulai ketika bencana terjadi, melainkan dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan setiap hari.

Acara diawali dengan sambutan dari pihak desa dan koordinator mahasiswa, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum memasuki sesi pemaparan materi. Berbeda dengan program multidisiplin sebelumnya yang dipadukan dengan praktik, kegiatan ini sepenuhnya difokuskan pada edukasi mengenai kekeringan, kebakaran, keselamatan rumah, hingga pemulihan dokumen pascabencana.

Materi pertama disampaikan oleh Selvira Faesa Syahputri Guwanito dari Program Studi Sejarah yang mengajak peserta melihat kondisi Desa Bengle melalui tiga dimensi waktu: dulu, kini, dan nanti. Melalui pendekatan sejarah lokal, masyarakat diajak memahami bagaimana pengalaman menghadapi kekeringan di masa lalu dapat menjadi pelajaran untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi tantangan di masa depan.

Selanjutnya, Anisa Ayu Khairani dari SV Manajemen dan Administrasi Logistik membawakan materi mengenai sistem peringatan kekeringan tingkat keluarga. Materi ini menekankan pentingnya mengenali tanda-tanda awal kekeringan, menyusun langkah antisipasi, serta membangun kebiasaan keluarga yang lebih siap menghadapi musim kemarau.

Dari bidang Agribisnis, Nayla Nurul Arofah memperkenalkan mulsa organik sebagai pelindung kelembapan tanah yang memanfaatkan limbah hasil pertanian. Pemanfaatan bahan organik tersebut diharapkan mampu membantu masyarakat mempertahankan kelembapan tanah sekaligus mengurangi limbah pertanian di lingkungan sekitar.

Pembahasan kemudian beralih pada risiko kebakaran yang meningkat selama musim kemarau. Nadiah Purwanto dari Program Studi Ilmu Komunikasi menjelaskan klasifikasi jenis kebakaran beserta karakteristik masing-masing, sehingga masyarakat memahami bahwa setiap jenis kebakaran memerlukan penanganan yang berbeda sesuai sumber apinya.

Materi tersebut dilanjutkan oleh Hasnaa’Amalia Qurratu’aini yang membahas mitigasi kebakaran dari lingkungan rumah, khususnya mengenai keamanan alat elektronik dan kebiasaan sehari-hari. Peserta diajak melakukan safety checksederhana, seperti memeriksa kondisi kabel, menghindari penggunaan terminal listrik secara berlebihan, serta membiasakan mencabut perangkat elektronik yang tidak digunakan sebelum meninggalkan rumah.

Perspektif kesiapsiagaan kemudian diperkaya oleh As Syja Virtue Nur Alif dari Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang melalui materi Panduan Praktis 防災 (Bousai): Mengamankan Keluarga, Dokumen, dan Masa Depan Kita. Materi ini memperkenalkan konsep kesiapsiagaan yang dimulai dari rumah dengan menyiapkan keluarga, dokumen penting, serta rencana menghadapi keadaan darurat.

Selanjutnya, Zulfan Fawwaz Ahmad dari SV Akuntansi Perpajakan membawakan materi mengenai pengelolaan keuangan darurat bencana desa secara transparan. Materi tersebut menyoroti pentingnya pencatatan keuangan yang akuntabel sebagai bagian dari kesiapsiagaan masyarakat dan tata kelola desa ketika menghadapi situasi darurat.

Rangkaian materi kemudian dilanjutkan oleh Vanesa Shenazia dari Fakultas Hukum yang membahas Panduan Mitigasi dan Pemulihan Dokumen Perdata-Administratif Menghadapi Bencana. Peserta memperoleh pengetahuan mengenai cara melindungi dokumen penting seperti Kartu Keluarga, akta kelahiran, ijazah, Sertipikat Hak Milik, BPKB, dan STNK, sekaligus memahami prosedur pengurusannya apabila dokumen rusak atau hilang akibat bencana.

Sebagai penutup sesi materi, Bilqis Putri Hermawan dari Program Studi Keperawatan mengangkat tema bahaya asap terhadap saluran napas. Materi ini mengingatkan masyarakat bahwa ancaman kebakaran tidak hanya berasal dari api, tetapi juga dari paparan asap yang dapat membahayakan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan.

Selain rangkaian sosialisasi, program ini juga menghasilkan sejumlah luaran yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan. Fausta Nandana Rasendriya dari Program Studi Informatika membuat website desabengle.id.. Sementara itu, seluruh mahasiswa pemateri menyusun booklet sesuai bidang keilmuannya yang kemudian dibagikan kepada warga sebagai bahan edukasi dan pedoman praktis setelah kegiatan berakhir.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi yang aktif menunjukkan bahwa materi mengenai mitigasi kebakaran, kesiapsiagaan keluarga, hingga pemulihan dokumen merupakan pengetahuan baru yang dinilai sangat relevan dengan kondisi Desa Bengle yang rutin menghadapi musim kemarau. Kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama sebagai ruang silaturahmi antara mahasiswa KKN dan masyarakat.

Melalui program multidisiplin ini, Tim II KKN-R Undip berharap masyarakat Desa Bengle semakin memahami bahwa kesiapsiagaan bukan sekadar respons terhadap bencana, melainkan budaya yang dibangun sejak sebelum bencana terjadi. Dengan pengetahuan, kebiasaan, dan sarana edukasi yang tepat, masyarakat diharapkan mampu menjadi lebih tangguh dalam menghadapi risiko kekeringan maupun kebakaran di masa mendatang.

LIPUTAN KEGIATAN LAINNYA

Dokumentasi Terkini

Berita & Dokumentasi Terkait

Lihat Semua di Beranda →